Jaman Sudah Maju, Literasi Jangan Mundur!
ㅤDikutip dari laman LPM Keadilan, Joko Arifin menjabarkan bahwasannya kualitas suatu bangsa berpatok pada kecerdasan dan pengetahuan sumber daya manusia di dalamnya. Kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedangkan ilmu pengetahuan diperoleh dari informasi lisan maupun tulisan. Namun, ironisnya, jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku pertahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun (Sumber : Majalah Oase Edisi April 2014 dalam tulisan Joko Arifin, 2018). Budaya literasi berperan besar dalam proses membentuk karakter bangsa yang berkualitas.
ㅤPada era modern ini, tentunya generasi muda dimudahkan dengan segala teknologi yang sudah maju. Informasi yang dapat dengan praktis diakses, membantu segala tugas bagi pelajar. Berbagai sumber seperti website, juga aplikasi-aplikasi menyediakan hampir seluruh kebutuhan pelajar dalam konteks materi serta referensi penugasan. Namun segenap kemudahan ini menjadi pedang bermata dua bagi pelajar. Banyak yang lengah atas pemanfaatan teknologi ini. Karena nyaris sempurnanya, pelajar kerap menyalin jawaban dari internet, kemudian “menempel” nya dalam tulisan mereka. Hal lain yang juga menjadi tabiat kurang baik ialah malas membaca. Karena menganggap semua yang diunggah di internet adalah sebuah validitas tak terbantahkan, maka mereka tinggal menuliskannya kembali tanpa menelaah lebih lanjut. Konon membaca itu membosankan. Jika membaca saja menjadi sebuah beban, tidak menutup kemungkinan ini menjadi penyebab rendahnya angka terbitan buku di Indonesia. Malas membaca, malas menulis, tidak praktis, melelahkan, tidak seru. Kira-kira demikianlah tanggapan jujur pelajar perkara literasi.
ㅤLiterasi seharusnya menjadi budaya yang dilestarikan. Dan ini merupakan peran pelajar dalam melaksanakannya. Pemerintah telah berupaya meningkatkan antusiasme pelajar dalam hal ini, salah satunya yakni kegiatan membaca buku selama 5-15 menit dan menuliskan resume atas apa yang mereka baca. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam pembelajaran pertama. Namun sayangnya, tak sedikit yang menyepelekan hal ini, contohnya dengan mencontek milik temannya, tidak sudi repot-repot membaca dan meringkas sendiri. Entah alasan apa yang masuk akal untuk bisa memaklumi kelakuan seperti itu. Jika bukan berasal dari kesadaran diri sendiri, mereka tidak akan pernah menyadari seberapa bahayanya rendah literasi di Indonesia, serta akibat fatal apa yang nantinya akan menimpa, misalnya musnahnya buku-buku dan tulisan indah karya orang-orang hebat negeri ini. Maka agar hal mengerikan itu tidak sungguhan terjadi, kita semua perlu kerja sama yang baik untuk meninggikan angka literasi Indonesia. Tenaga pendidik bisa memberikan intruksi kepada siswanya dengan mengadakan program seperti lomba menulis karya sastra, atau sekedar memberikan tugas pada setiap siswa untuk membuat satu tulisan, namun tidak diperbolehkan “mengintip” internet, agar siswa dapat memaksimalkan kemampuannya dalam menulis. Tentunya tenaga pendidik pun harus membimbing siswanya selama proses kegiatan berlangsung. Selain itu, jadwal wajib kunjung perpustakaan juga bisa menyokong penggalakan upaya peningkatan literasi siswa.
Akhir Kata
ㅤLiterasi tak hanya penting di masa sekolah, namun akan selalu dibutuhkan dalam segala jenjang usia dan karir. Pada hakikatnya, di dunia pekerjaan, literasi sangat berguna untuk menganalisis proyek yang sedang digarap. Jika tidak memiliki intensif literasi yang baik, tentunya akan mengurangi bobot hasil nantinya. Maka dari itu, mulai dari bangku sekolah, giatlah dalam membaca dan menulis. Jadikan literasi sebagai celengan dan bekal untuk masa depan.
Daftar Rujukan
ㅤArifin, Joko. 2018. “Membangun Kualitas Bangsa Melalui Budaya Literasi”. https://lpmkeadilan.org/2018/07/29/membangun-kualitas-bangsa-melalui-budaya-literasi/ Diakses pada 1 Februari 2023.
Comments
Post a Comment